| |
| Spesifikasi & Harga BBM (Per 1 Juni 2009) |  |
| No. | Jenis Pemeriksaan | PT. Bio Energi Nabatindo | PT. Pertamina (Persero) | Metode Pemeriksaan |
| PPO 01 | BIODIESEL | Solar |
| 1. | Specific grafity at 60/60oF (kg/l) | 894,6 | 900,1 | 815-870 | ASTM D 1298 |
| 2. | Viscosity kinematic at 40oC (cSt) | 26,35 | 15,03 | 2,0-5,0 | ASTM D 445 |
| 3. | Pour point (oC) | 12 | 14 | 18 | ASTM D 97 |
| 4. | Flash Point P.M.c.c. (oC) | 162 | 160 | 60 | ASTM D 92 |
| 5. | Conradson Carbon Residue (% weight) | 0,733 | 0,789 | - | ASTM D 189 |
| 6. | Water content (% vol) | 1,04 | 0,70 | - | ASTM D 95 |
| 7. | Massa Jenis (gr/cc) | 0,8299 | 0,8650 | - | |
| 8. | Calorific Value (kalori/gram) | 8.958,40 | 8.958,40 | 11.290,00 | Bomklr |
| 9. | Emission |
| | a. Sulfur Dioksida (SO2) (mg/m3) | 80,527 < 800 | 80,527 < 800 | - | Turbidity |
| | b. Nitrogen Dioksida (NO2) (mg/m3) | 24,503 < 1000 | 24,503 < 1000 | - | Saltzman |
| | c. Ash Content (mg/m3) | 6,808 < 350 | 6,808 < 350 | - | Gravimetri |
| | d. Amonia (NH3) | - | - | - | |
| | e. Total Sulfur Tereduksi (H2S) | - | - | - | |
| | f. Timbal Hitam (Pb) | - | - | - | ASTM D 4185-96 |
| 10. | Harga Per Liter Wilayah 1 | Rp.3500,- | Rp.4600,- | Rp.-,- | Per 1 Juni 2009 |
| 11. | Harga Per Liter Wilayah 2 | Rp.3500,- | Rp.4600,- | Rp.- / US - (KL) | Per 1 Juni 2009 |
| 12. | Harga Per Liter Wilayah 3 | Rp.3500,- | Rp.4600,- | Rp.- / US - (KL) | Per 1 Juni 2009 |
|
|
Specific Grafity / Berat Jenis adalah suatu angka yang menyatakan perbandingan berat dari bahan bakar minyak pada temperatur tertentu terhadap air pada volume dan temperatur yang sama. Penggunaan Specific Gravity adalah untuk mengukur berat/massa minyak bila volumenya telah diketahui.
Viscosity / Viskositas adalah tahanan yang dimiliki fluida yang dialirkan dalam pipa kapiler terhadap gaya gravitasi. Biasanya dinyatakan dalam waktu yang diperlukan untuk mengalir pada jarak tertentu. Jika viskositas semakin tinggi, tahanan untuk mengalir akan semakin tinggi. Karakteristik ini sangat penting karena memengaruhi kinerja injector pada mesin diesel.
Pour Point / Titik Tuang adalah suatu angka yang menyatakan suhu terendah dari bahan bakar sehingga bahan bakar tersebut masih dapat mengalir karena gaya gravitasi. Titik tuang ini diperlukan sehubungan dengan adanya persyaratan praktis dari prosedur penimbunan dan pemakaian dari bahan bakar. Hal ini dikarenakan bahan bakar minyak sering sulit untuk dipompa, apabila suhunya telah dibawah titik tuangnya.
Massa jenis menunjukkan perbandingan berat per satuan volume. Karakteristik ini berkaitan dengan nilai kalor dan daya yang dihasilkan oleh mesin diesel per satuan volume bahan bakar. Massa jenis terkait dengan viskositas.
Flash Point / Titik Nyala atau titik kilat adalah titik temperature terendah yang menyebabkan bahan bakar dapat menyala. Penentuan titik nyala ini berkaitan dengan keamanan dalam penyimpanan dan penanganan bahan bakar.
Conradson Carbon Residue / Kadar Residu (arang) menunjukkan tendensi pembentukan jelaga (cokes). Tingkatan residu karbon tergantung pada jumlah asam lemak bebas, jumlah gliserida, dan jumlah logam alkali sebagai katalis yang sudah berbentuk sabun. Kadar residu karbon harus kecil karena fraksi hidrokarbon ini akan menyebabkan penunbukan residu karbon dalam ruang pembakaran. Akibatnya, kinerja mesin akan berkurang. Pada temperature tinggi, deposit karbon dapat membara sehingga akan menaikkan temperature silinder pembakaran.
Water content / Kadar Air yang nilainya di atas ketentuan akan menebabkan reaksi yang terjadi pada konversi minyak nabati tidak sempurna (terjadi reaksi penyabunan). Bisa juga terjadi proses hidrolisis pada bio oil sehingga akan meningkatkan bilangan asam, menurunkan pH, dan meningkatkan sifat korosif. Pada temperature rendah, air dapat mendorong terjadinya pemisahan pada bio oil murni dan dalam proses blending. Sementara itu, sediment pada bio oil dapat menyumbat dan merusak mesin.
Calorific Value / Nilai Kalori adalah suatu angka yang menyatakan jumlah panas/kalori yang dihasilkan dan proses pembakaran sejumlah bahan bakar dengan udara/oksigen. Nilai Kalori PPO 01 dan PPO 02 antara 15.830-16.900 BTU/lb atau 8.800-9.400 Kcal/kg. Nilai Kalori berbanding terbalik terhadap berat jenis. Pada volume yang sama, semakin besar berat jenis suatu minyak akan semakin rendah nilai kalorinya, demikian sebaliknya semakin rendah berat jenis suatu minyak akan semakin besar nilai kalorinya. Nilai kalori diperlukan karena dapat digunakan untuk menghitung jumlah konsumsi bahan bakar minyak yang dibutuhkan untuk suatu mesin dalam suatu periode. Nilai Kalori umumnya dinyatakan dalam satuan Kcal/kg atau BTU/lb (satuan british).
Ash Content / Kadar Abu adalah jumlah sisa-sisa dari bahan bakar yang tertinggal, apabila suatu minyak dibakar sampai habis. Kadar abu ini dapat berasal dari bahan bakar sendiri atau akibat kontak didalam perpipaan dan penimbunan (adanya partikel metal yang tidak terbakar yang terkandung dalam bahan bakar itu sendiri dan yang berasal dari sistem penyaluran / penimbunan).
 |
Pertamina Wilayah 1 | Pertamina Wilayah 2 | Pertamina Wilayah 3 |
Nabatindo Wilayah 1 | Nabatindo Wilayah 2 | Nabatindo Wilayah 3 |
Catatan: Harga Industri (Harga Non PBBKB); Harga diatas belum termasuk PPN 10%; belum termasuk biaya pengiriman |
| Wilayah 1: | Harga berlaku Ex. Suplai Point (Depot/Transit Terminal) Selain UPmsVII Makasar, Upms VIII Jayapura dan Propinsi NTT |
| Wilayah 2: | Harga berlaku Ex. Suplai Point (Depot/Transit Terminal) di UPmsVII Makasar |
| Wilayah 3: | Harga berlaku Ex. Suplai Point (Depot/Transit Terminal) di UPmsVIII Jayapura dan Propinsi NTT |
|
|